BERFIKIR STRATEGIS UNTUK BERSAING

Posted: July 2, 2011 in Uncategorized

Pada waktu menulis The Mind of the Strategist, Kehnichi Ohmae belum memasukkan change sebagai suatu unsur yang penting dipertimbangkan untuk menyusun strategi. Ketika itu, Ohmae menekankan tiga elemen sangat penting yang semuanya dimulai dengan huruf “C” juga yaitu Company, Competitor, dan Customer. Saya pikir, karya Ohmae ini sangat ‘indah’. Mengapa??? Karena dengan sederhana, dia bisa memberikan kerangka berpikir bila Anda ingin menyusun strategi bisnis.

Company adalah perusahaan Anda harus dianalisis kekuatan dan kelemahannya. Cuma, banyak orang sering keliru ketika melakukan analisa SWOT. Mereka menyangka bahwa strength dan weakness Cuma periu digali dari unsur Company. Padahal sejak 400 tahun sebelum Masehi, Sun Tzu sudah mengingatkan bahwa kekuatan dan kelemahan relatif terhadap musuh Anda.

Dalam dunia bisnis, kekuatan dan kelemahan Anda adalah hasil analisis komparasi antara Anda dengan pesaing. Sebuah perusahaan yang membanggakan dirinya karena punya pengalaman 10 tahun dalam suatu industri, justru bisa merupakan kelemahan kalau perusahaan pesaing sudah bergerak di situ selama 15 tahun. Misalnya, belum tentu merupakan kekuatan. Kalau staf pesaing kebanyakan bergelar Master, maka hal tersebut justru merupakan kelemahan. Jadi kuat dan lemah masuk dalam unsur yang bersifat relative. Tergantung dengan siapa Anda membandingkan.

Lebih parah lagi, kalau Anda menyebutkan ‘kekuatan’ di bidang yang tidak relevan. Seringkali, ‘kelebihan’ Anda itu hanya dilihat dari lamanya berkecimpung di suatu industri, mungkin saja karena merupakan sebuah perusahaan yang sulit berubah. Semua orang yang bekerja di perusahaan itu sudah terlalu kuat pendiriannya bahwa cara yang ditempuh dari dulu dan membuat sukses, masih tetap relevan untuk masa akan datang.

Begitu juga, gelar Master belum tentu merupakan kekuatan dibanding sarjana biasa, kalau memang sang Master tidak bisa ‘membumi’! Padahal pekerjaan yang dilakukan perlu sesuatu yang lebih praktis dan konkrit.

Jadi, Company dan Competitor merupakan dua elemen yang harus dibandingkan secara “jujur”. Artinya, Anda tidak boleh hanya ‘mengisi’ daftar weakness dari perusahaan Anda dengan cuma melihat situasi internal. Karena itu, dalam setiap seminar, saya selalu mengatakan bahwa kedua unsure tersebut sama sekali bukan elemen internal. Anda bisa dengan cepat mengisi daftar ‘kelemahan’ bila Anda tidak perlu membandingkan diri dengan pesaing.

Yang disebut opportunity and threat sebenarnya adalah kesempatan dan ancaman apa pun yang akan mempengaruhi naik turunnya bisnis Anda yang berasal dari customer atau bisa berarti naik turunnya jumlah customer atau bisa berati penggunaannya yang lebih sering. Saya suka menghubungkan persamaan unsur “O” dan “T” dalam analisa SWOT ini dengan konsep sederhana saja dan terdiri dari tiga unsur yaitu “user”, “uses”, dan “usage”.

User adalah pemakai produk atau jasa Anda. Uses adalah jenis pemakaian atau dipakai apa saja produk atau jasa anda itu. Dan usage adalah frekuensi pemakaian sehubungan dengan user tadi. Kalau anda merasa familiar dengan mesin ketik dan alergi dengan teknologi baru, maka barang kali Anda belum jadi user bagi computer. Perubahan apapun di lingkungan yang tidak punya pengaruh langsung terhadap usership aini, sebenarnya belum merupakan opportunity dan threat . Ada lagi satu yang saya ingatkan. Jangan sekali-kali menganggap bahwa O dan T ini adalah faktor eksternal, seperti jangan sekali-kali Anda menganggap “S” dan “W” adalah faktor internal! Kesempatan yang ada mungakin diambil pesaing dan itu sebenarnya merupakan ancaman. Mengapa itu bisa terjadi? Mungkin saja, karena pesaing anda lebih siap atau persiapannya lebih “pas” menghadapi kesempatan tersebut. Contohnya, ketika di Indonesia pertama kali ada peraturan bahwa orang bersepeda motor harus memakai helm, ini bukan kesempatan untuk semua orang yang sudah punya pengalaman atau punya pengetahuan tentang cara pembuatan maupun material helm. Sebaiknya, tidak semua situasi eksternal yang buruk merupakan ancaman. Bahkan gempa bumi di Flores pun ternyata merupakan kesempatan bagi perusahaan yang menjual alat-alat berat yang di perlukan untuk melakukan recovery. Masih ingat perang teluk? Ketika itu hampir semua orang di Indonesia lagi asyik mengikuti bagaimana Norman Swarzkopf berudi sisasat dengan Saddam Husein. Tapi, salah seorag teman saya di Jakarta justru mulai mengumpulkan tenaga kerja untuk di latih keteramilan tertentu dan di ajari bahasa arab sedikit-sedikit. Begitu perang teluk selesai, tenaga kerja ini di ekspor ke Quawit untuk membantu perusahaan kontraktor Amerika yang dapat assigment untuk memperbaiki reruntuhan perang!

Jadi analisis SWOT sangat erat hubungannya dengan analisis Company-Competitor-Costumer dan Oportunity dulu dengan mengamati semua perubahan-perubahan dan dampak pada usership costumer. Mulai dari yang negative, karena ini yang harus dihindari dulu. ”Jangan melepas Punai yang sudah di tangan…

Setelah itu baru Anda melihat perubahan komposisi pesaing baru yang perlu dipakai sebagai pebanding untuk kelemahan dan kekuatan anda, lebih baik mulai menilai kelemahan dulu, supaya kita selalu waspada dari pada cuma hanya melihat kekuatan yang belum tentu bisa digunakan. Dengan melakukan analisis terhadap ketiga eleman “C” tersebut, kata Kehnichi Ohmae memberikan sumbangan yang berharga dalam membuat strategi. Tapi, menjelang abad ke-21 ini, elemen change mutlak perlu diperhatikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s